• Administrator
  •  
    Untuk Member Baru
    1. AKTIVASI member by email (CEK di folder SPAM )
    2. id baru untuk buat thread min 10 post dahulu atau di approve oleh Moderator
    3. Pm bisa di lakukan jika sudah 10 post
    4. memberikan reputasi min 500 post
    5. lupa pass kirim kan id anda ke email adm.celapcelup@gmail.com
    6. Menjadi donatur bisa PM vulnerable
    7. Untuk yg sering keluar masuk di android gunakan uc browser/opera mini , adsblok tolong dimatikan
    8.Mohon Jaga Ucapan dan jangan semau Gue , hargai member lain nya
    9. berforum dengan baik dan bijaksana
    10.Dilarang berjualan , narkoba , dan lain-lain yang melanggar hukum yg berlaku di indonesia
    Selamat Datang celupcelup.com
     
/lucu Clupers,Pihak Forum membuka kesempatan bagi agan agan yang ingin berkontribusi untuk perkembangan Forum.
Cara MENJADI DONATUR, Silahkan berkunjung ke Lounge Informasi Donatur << bisa di KLIK . Terima Kasih

Kendil Kahuripan

Cerita Bersambung , Bila kalian ada Ide Buat cerita yang bersambung Boleh Buat Di sini

Moderators: cinthunks, Tj44

User avatar

Topic author
cinthunks
MODERATOR
MODERATOR
Posts: 84
Joined: 11 May 2018, 04:02
Reputation:

Re: Kendil Kahuripan

Post by cinthunks » 28 Aug 2019, 15:14

penthoel_11 wrote:
27 Aug 2019, 17:35
Siap om mod /ok
Ajak yg lain kesini yaak para tukang tanjidor dan kawan kawan

Kita besarkann forum ini sama sama om pent
WORDS MONARCH

User avatar

Tj44
MODERATOR
MODERATOR
Posts: 717
Joined: 11 May 2018, 03:27
Reputation:

Post by Tj44 » 29 Aug 2019, 07:21

cinthunks wrote:
28 Aug 2019, 15:14
Ajak yg lain kesini yaak para tukang tanjidor dan kawan kawan

Kita besarkann forum ini sama sama om pent
Setuju om Ntungz.

sekalian semua member di grup2 Cerpan, di angkut aja.
/tq2 /tq2 /tq2
Momod Berwajah Ganteng, Kinyis-Kinyis dan Berkharisma.
Dilarang Protes!!!

User avatar

angelo
MODERATOR
MODERATOR
Posts: 81
Joined: 07 May 2018, 22:14
Reputation:

Post by angelo » 07 Sep 2019, 02:59

asik di post juga di sini.. moga disini lbh cepet maju udatenya
JANGAN SEMUA HAL DI LAKUKAN DENGAN PERHITUNGAN UNTUNG DAN RUGI

User avatar

penthoel_11
WARGA CelapCelup
WARGA CelapCelup
Posts: 49
Joined: 20 May 2018, 15:18
Reputation:

Post by penthoel_11 » 16 Sep 2019, 04:50

Pertamaxxx ....






Oh blm ternyata 🤭
Manchester is Red



User avatar

3kehendak
MODERATOR
MODERATOR
Posts: 104
Joined: 08 Jul 2019, 02:45
Reputation:

Post by 3kehendak » 16 Sep 2019, 05:51

Mantep ceritanya om nthunks, klo butuh inspirasi buat sex scene nya datang kebandung kuuuy /ok /hero
Stop trying to be happy...!

User avatar

3kehendak
MODERATOR
MODERATOR
Posts: 104
Joined: 08 Jul 2019, 02:45
Reputation:

Post by 3kehendak » 16 Sep 2019, 05:54

Ewako_Mcz wrote:
29 Aug 2019, 07:21
Setuju om Ntungz.

sekalian semua member di grup2 Cerpan, di angkut aja.
/tq2 /tq2 /tq2
GREY nya dilanjut disini juga dongs, mau gua print biar enak bacanya /lucu
Stop trying to be happy...!

User avatar

angelo
MODERATOR
MODERATOR
Posts: 81
Joined: 07 May 2018, 22:14
Reputation:

Post by angelo » 16 Sep 2019, 06:01

om ini kapan mao di lanjutttt.. dah ketinggalan jauh
JANGAN SEMUA HAL DI LAKUKAN DENGAN PERHITUNGAN UNTUNG DAN RUGI

User avatar

Tj44
MODERATOR
MODERATOR
Posts: 717
Joined: 11 May 2018, 03:27
Reputation:

Post by Tj44 » 16 Sep 2019, 07:35

3kehendak wrote:
16 Sep 2019, 05:54
GREY nya dilanjut disini juga dongs, mau gua print biar enak bacanya /lucu
Oit salah quote loe cug.
Ane kan bukan penulisnya...

noh @Tije_44 /lala /lala /lala
Momod Berwajah Ganteng, Kinyis-Kinyis dan Berkharisma.
Dilarang Protes!!!


pp6
Donatur Ultra
Donatur Ultra
Posts: 20
Joined: 16 Sep 2019, 13:04
Reputation:

Post by pp6 » 16 Sep 2019, 14:42

Katanya di lock nih thread

Wuaseemm salah forum /haha

User avatar

penthoel_11
WARGA CelapCelup
WARGA CelapCelup
Posts: 49
Joined: 20 May 2018, 15:18
Reputation:

Post by penthoel_11 » 16 Sep 2019, 15:38

pp6 wrote:
16 Sep 2019, 14:42
Katanya di lock nih thread

Wuaseemm salah forum /haha
Ati2 jadi anak band sampeyan /gg1
Manchester is Red



User avatar

penthoel_11
WARGA CelapCelup
WARGA CelapCelup
Posts: 49
Joined: 20 May 2018, 15:18
Reputation:

Post by penthoel_11 » 16 Sep 2019, 15:38

pp6 wrote:
16 Sep 2019, 14:42
Katanya di lock nih thread

Wuaseemm salah forum /haha
Ati2 jadi anak band sampeyan /gg1
Manchester is Red



User avatar

Oyeckpunkerz
VERIFIED
VERIFIED
Posts: 41
Joined: 16 Sep 2019, 16:14
Reputation:

Post by Oyeckpunkerz » 16 Sep 2019, 16:23

yaahhh kok ga ngajak2 kesini om @cinthunks
User is banned, content is deleted automatically

/lala


shinigami34
WARGA CelapCelup
WARGA CelapCelup
Posts: 13
Joined: 16 Sep 2019, 15:45
Reputation:

Post by shinigami34 » 16 Sep 2019, 17:29

Akhirnya bisa gabung juga 😁
Ayo hu, tamatin disini aja


NsR69
CALON WARGA
CALON WARGA
Posts: 7
Joined: 16 Sep 2019, 15:27
Reputation:

Post by NsR69 » 16 Sep 2019, 22:24

Update terbaru nya disini om @cinthunks

User avatar

Topic author
cinthunks
MODERATOR
MODERATOR
Posts: 84
Joined: 11 May 2018, 04:02
Reputation:

Post by cinthunks » 17 Sep 2019, 02:33

CHAPTER 4
PADEPOKAN TAMBAK WEDI​




AUTHOR POV

Kabut malam menutupi pandangan mata, bentuknya seperti serabut tipis yang mengiris udara. Arya dan Arumsari berdiri tegak, dipeluk oleh serat kabut, tenggelam dalam semilir angin, dikelilingi bau bunga sedap malam. Pelan-pelan mereka mendekati pintu gerbang padepokan yang terbuat dari kayu jati tebal. Arya mengetuk pintu gerbang padepokan yang masih tertutup rapat. Perlahan pintu gerbang padepokan terbuka dan tampak seorang pemuda berpakaian serba hitam berdiri menantang.

“Permisi ... Kami kemalaman ... Bolehkah kami menginap di sini malam ini ...” Kata Arya sopan dan ramah. Pemuda itu menatap penuh curiga terhadap dua sosok di hadapannya.

“Tunggu sebentar ...!” Pemuda itu bersuara lalu menutup pintu gerbang. Sekitar dua puluh helaan nafas, pintu gerbang terbuka kembali, kini yang nampak adalah seorang pria tampan berpakaian serba putih dengan ikat kepala yang bagian kanan dan kiri belakang dibiarkan menjuntai hingga bahu.

“Siapa kalian ini?” Tanya si pria ramah namun penuh selidik.

“Kami pengembara yang kemalaman ... Bila berkenan, kami ingin bermalam di sini sampai hari terang ...” Jawab Arya sambil membungkukan badannya memberi penghormatan.

“Aku, Sidanti ... Murid tertua dari padepokan ini ...” Si pria tidak lantas mempersilahkan Arya dan Arumsari masuk namun memperkenalkan dirinya.

“Oh ... Saya, Arya Salaka dan ini Arumsari ...” Arya memperkenalkan diri. Pria yang bernama Sidanti menelisik kedua orang di hadapannya dengan seksama. Lama matanya terpaku pada Arumsari.

“Silahkan ...!” Akhirnya Sidanti mempersilahkan Arya dan Arumsari masuk ke dalam padepokan.

Arya dan Arumsari berjalan di belakang murid pertama padepokan. Langkah kaki mereka menuju bangunan utama yang berada yang berada di tengah-tengah bangunan lain. Sidanti mempersilahkan Arya dan Arumsari masuk ke dalam bangunan tersebut. Arya memperhatikan suasana dalam bangunan yang memiliki banyak ruang itu dengan rasa kagum.

“Apakah kalian suami istri?” Tiba-tiba Sidanti bertanya.

“Bu-bukan ... Kami ber-bersaudara ...” Lirih Arya gugup. Sidanti agak mengerungkan keningnya lalu berusaha tersenyum.

“Kalian boleh memilih salah satu kamar di sana ...!” Ucap Sidanti sambil menunjuk ke arah kanan.

“Terimakasih, kisanak ... Maaf jika kami mengganggu ...” Kembali Arya membungkukan badannya.

“Silahkan beristirahat ... Maaf kami tidak bisa menjamu kalian karena hari sudah malam...” Tiba-tiba suara Sidanti menjadi sangat lembut.

“Terimakasih ... Terimakasih ...” Sahut Arya dengan sikap sopannya.

Sidanti akhirnya meninggalkan tamunya begitu saja, sementara Arya dan Arumsari bergerak ke arah kamar yang ditunjuk sang tuan rumah. Terjadi perdebatan kecil antara Arya dan Arumsari sebelum memasuki kamar. Namun setelah beberapa saat Arya mengalah dengan keinginan Arumsari yang ingin tidur sekamar dengannya.

“Seharusnya nyimas tidur di kamar sebelah ...” Ucap Arya yang masih kesal.

“Aku gak berani sendirian di tempat asing seperti ini, kangmas ...” Jawab Arumsari sangat genit.

“Ya sudah ... Segera kita tidur ... Jangan berbuat yang macam-macam ... Janji ya ...” Setelah mengucapkan itu, Arya membaringkan tubuhnya di atas dipan yang diikuti oleh Arumsari.

“Ya ... Kangmas ...” Desah Arumsari.

Janji tinggal janji, ucap tinggal ucapan, perbuatan berkata lain. Kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu tidak mampu menahan hasrat yang bergejolak. Di dalam kamar yang sangat minim cahaya berlangsung pergulatan panas mereka. Sang dominan menatap lapar pada pasangan bercintanya yang tubuhnya terhentak ke depan dan ke belakang saat sang dominan menghentakkan kejantanannya dan semakin memperdalam sodokannya pada sosok yang mengerang dan mendesah hebat di bawah tubuh seksinya.

Tanpa disadari, sepasang bola mata berwarna hitam legam sejak tadi mengintip aktivitas bercinta kedua insan tersebut dengan tatapan nanar. Hati pria pengintip sangat gelisah, degup-degup di dadanya sangat tidak tenang, sesekali menelan liurnya kasar, dan ia berulang-ulang menghela nafasnya berat perlahan. Perlahan namun pasti, hati pria pengintip mulai terpesona oleh kecantikan dan kemolekan Arumsari. Wanita cantik itu membuatnya merasakan perasaan yang tak dapat didefinisikan.

Pria pengintip itu surut langkah ke belakang setelah Arya dan Arumsari terlelap. Berbagai perasaan berkecamuk memenuhi dadanya. Pria itu memijit pelipis pelan sambil berjinjit memasuki kamarnya. Bayangan wajahnya yang cantik, tubuhnya yang indah, dan gayanya yang anggun mulai menjadi bahan hayal pria ini sepanjang malam sampai dirinya tertidur.

###

Suara kokok ayam jago terdengar lagi untuk kesekian kalinya, seakan berusaha untuk membangunkan Arya dari tidurnya. Kemudian saat matanya terbuka perlahan, Arya tidak menemukan Arumsari di dalam kamar. Lalu dengan segera Arya berguling untuk bangkit dari dipan. Ia pun membawa kakinya melangkah ke luar kamar. Suasana padepokan sangat ramai, beberapa pesilat tampak berlatih ringan di lapangan depan gedung utama.

Selagi ia kebingungan, tiba-tiba dari jauh Arya melihat seorang tua berpakaian putih. Bajunya juga sederhana dan lebar seperti jubah pendeta. Setelah mengamati orang tua itu, Arya segera mendekat dan langsung memberi hormat kepada orang tua itu dan berkata ...

“Salam hotmat hamba, tuan ... Maaf telah merepotkan ...” Ucap Arya setelah berhadapan dengan orang yang diyakini Arya adalah guru padepokan. Dan memang benar sangkaan Arya, orang yang dihadapinya adalah guru padepokan yang bernama Ki Tambak Wedi.

“Oh, ya ... Anak muda ... Maaf kami tidak bisa menyambut tamu sebagaimana layaknya. Harap anak muda memakluminya ...” Kata Ki Tambak Wedi penuh khidmat.

“Tidak apa-apa, tuan ... Saya yang seharusnya minta maaf karena datang tidak diundang ...” Jawab Arya merendah.

“Ha ha ha ... Silahkan menikmati suasana di padepokan ini ... Anak muda bisa mencari makanan di dapur ...” Ujar Ki Tambak Wedi.

“Ya, tuan ...” Arya selanjutnya meninggalkan Ki Tambak Wedi yang sedang melatih murid-muridnya.

Pemuda pemilik buli-buli sakti itu kemudian kembali ke dalam rumah besar dan langsung ke arah belakang rumah. Arya menemukan makanan di sebuah meja berukuran besar namun ia sama sekali tidak tertarik dengan makanan yang tersaji. Tangannya meraih dua buah pisang dan melahapnya sekaligus. Dan memang, sejak beralih zaman, pemuda ini lebih suka memakan buah-buahan untuk mengisi perutnya.

Arya melanjutkan langkahnya ke arah lebih belakang, terlihat beberapa murid padepokan sedang membelah kayu bakar. Arya melanjutkan langkahnya lebih belakang lagi. Di hadapannya terpampang pemandangan yang sangat indah. Penuh pohon berkembang dan rumput menghijau, juga di situ mengalir sebuah sungai kecil yang amat jernih airnya, penuh batu-batu hitam yang beraneka macam bentuknya.

Kaki Arya mulai menyentuh air sungai yang dingin menyejukan. Kemudian, dengan ilmu meringankan tubuhnya, Arya bergerak ke hulu sungai dan tak lama menemukan tempat yang cukup tersembunyi. Setelah melepaskan pakaiannya, Arya merendamkan badannya menikmati dingin air sungai. Dengan begitu, tubuhnya menjadi lebih rileks dan tenang. Ternyata air sungai itu jernih dan lebih dingin daripada air telaga tempat gurunya berada, maka Arya merasa betah sekali mandi di situ. Ia menyelam ke dalam air mencari kerang dan mengejar ikan-ikan kecil yang bermacam-macam warna dan bentuknya.

Saat sedang ‘bersenang-senang’ menyelam di dasar sungai, Mata Arya tertumbuk pada sebuah peti kecil berkilauan yang sebagian badannya tertimbun tanah. Dengan gerakan ringan, Arya berhasil meraih peti kecil itu dengan hanya satu gengaman tangan lalu membawanya ke permukaan. Arya segera beranjak dari sungai dan memakai pakaiannya kembali. Pemuda itu duduk di atas batu besar di pinggir sungai sambil memperhatikan peti kecil yang ditemukannya.

“Aku buka aja ... Penasaran, apa isinya?” Gumam Arya sambil mengambil batu lalu memukulkannya sangat keras pada peti tersebut.

Setelah beberapa pukulan keras, peti kecil itu akhirnya terbuka. Matanya membulat, keningnya berselirat saat ia melihat sebuah buku kecil di dalam peti. Hanya beberapa detik berpikir, Arya segera mengambil gulungan lontar yang hanya terdiri atas tujuh lembar yang terlihat sudah sangat lusuh. Halaman demi halaman mulai ia pelajari. Rasa ketertarikan yang teramat sangat membuat pikirannya terfokus pada pelajaran yang ada dalam gulungan lontar kecil tersebut.

“Jurus pedang ini, lumayan juga ...” Gumam Arya sambil kembali pada halaman pertama buku. Sekali lagi ia pelajari gambar-gambar yang ada di halaman pertama.

“Syarat mempelajari ilmu pedang ini adalah tenaga dalam yang sangat besar ... Aku coba dulu ...” Gumam Arya lagi.

Arya mulai berlatih meningkatkan tenaga dalam dengan cara olah pernafasan dan meditasi sesuai petunjuk dalam buku. Laki-laki itu merasa ada aliran hawa murni sangat dahsyat pelan-pelan menjalar ke seluruh tubuh, lalu tubuhnya terasa sangat nyaman sekali. Arya adalah orang yang belajar ilmu kanuragan dari makhluk gaib, tentu saja tahu ini adalah akibat dari olah pernafasan dan meditasinya.

Arya yang duduk bersila di atas bata besar menambah pemusatan nalar budi dan mengenali arus peredaran darah serta detak urat nadinya. Hal itu dilakukannya berulang-ulang, sehingga pada gilirannya terasa hawa murni dahsyat yang bergerak dari lubang hidungnya, mengalir ke bawah, ke paru-paru, ke jantung, ke bawah perut, bergerak ke atas ke kepala sampai ujung rambut. Kemudian turun lagi ke bawah sampai ke ujung jari kakinya. Semua pergerakan hawa murni dahsyat itu terus diamati dan dikendalikanya.

Namun Arya merasa seolah-olah pergerakan itu masih tersumbat dan memerlukan penyaluran. Kadang-kadang pergerakan hawa murni dahsyat itu berputar tak terkendali dan lepas dari pengawasannya. Namun dengan bersusah payah akhirnya hawa murni dahsyat itu perlahan-lahan bisa dikuasai dan dikendalikannya. Setelah berkutat hampir seperempat hari, akhirnya Arya menyelesaikan latihan olah pernapasannya itu. Arya pun membuka sila kakinya dan mengurai tangannya yang bersedakep.

Sesuai petunjuk gulungan lontar kecil yang ia temukan, Arya mulai mencoba tenaga dalamnya. Arya mengangkat tangannya ke atas dan tiba-tiba sebagian air sungai terangkat dengan jumlah yang sangat banyak. Seakan tidak puas dengan jumlah air sungai yang berhasil ia angkat ke udara, Arya lebih mengangkat tangannya lagi ke atas dan hasilnya sebagia air sungai yang lain terangkat lagi ke udara. Dua gumpalan air sungai melayang-layang di udara digerakan oleh kekuatan tenaga dalam Arya yang kini meningkat beratus-ratus lipat kali.

Arya tersenyum puas dengan hasil latihannya. Tanpa pemuda itu sadari kalau gurunya, ‘Warang Waja’, secara diam-diam telah memberinya sebuah ilmu kedigjayaan sangat langka yang menjadikan ia dapat dengan cepat menghafal, mengingat dan menerapkan ilmu yang didapatnya. Sehingga ilmu tenaga dalam yang harusnya bisa dicapai dalam waktu berminggu bahkan berbulan bisa ia kuasai hanya dengan seperempat hari.

Arya bangkit dari duduknya setelah menghempaskan gumpalan air kembali ke dalam sungai. Ia mencari dahan pohon yang agak kecil yang digunakannya sebagai pengganti pedang. Tanpa ragu dan keyakinan sangat tinggi, Arya mulai bergerak mengikuti gerakan-gerakan yang terdapat dalam buku kecil tersebut.

Jurus yang aneh sekali dan biar pun digerakkan perlahan, dahan pohon itu mengeluarkan bunyi berdesing-desing, naik turun suaranya ketika gerakan-gerakannya berubah sehingga seperti suling ditiup melagu! Kemudian Arya bergerak ke belakang tiga langkah dan mainkan jurusnya dengan cepat. Bukan main! Siapa pun yang melihat akan menjadi silau karena dahan pohon itu lenyap menjadi segulung sinar putih seperti kilat yang mengeluarkan bunyi berdesing-desing aneh.

Hampir setengah hari, Arya merapal jurus-jurus aneh tersebut bahkan laki-laki itu mengkombinasikan dengan ilmu meringankan tubuhnya. Alhasil, jurus yang baru saja dipelajarinya itu menjadi sebuah jurus yang sangat menakjubkan. Batu-batu sebesar ‘gajah’ pecah berhamburan hanya dengan sentuhan ujung dahan pohon yang ia pegang. Sampai pada penghujung hari, Arya kini berhasil mengontrol kekuatan jurus itu. Arya berhasil menggunakan jurus pedang tersebut untuk sekedar melumpuhkan sampai dengan tingkat mematikan.

“Siapa pun pemilik lontar ini ... Aku haturkan sembah sujud hamba pada Guruku ...” Arya bergumam sambil membungkukan badannya ke segala arah.

Setelah membakar lontar kecil berisikan jurus pedang maut yang telah dikuasainya, Arya segera meloncat dengan kekuatan ilmu meringankan tubuh meninggalkan tempat itu. Tak lama, Arya sampai di bagian belakang padepokan Tambak Wedi. Baru beberapa langkah masuk pintu gerbang belakang, mata Arya menangkap sebuah pemandangan yang sulit dipercaya. Dengan sigap Arya menyelinap di balik dinding sebuah bangunan kecil di sebelah kirinya.

Arya melihat sangat jelas Sidanti meraih kedua tangan Arumsari, mereka saling tatap dan bercakap-cakap, tetapi Arya tidak cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka. Arya berspekulasi bahwa mereka sedang bermesraan. Arya masih terdiam pada posisinya, hingga hatinya seperti ditusuk jarum kecil yang tak tahu di mana tempatnya hingga tak bisa dicabut lagi, ketika melihat Sidanti memeluk Arumsari, dan wanita itu justru membalas pelukan Sidanti dan tersenyum bahagia. Arya masih terpaku di tempat, matanya pedas melihat pemandangan di depannya.

Khianat tetap khianat, tikam belakang tetap tikam belakang. Amarah Arya mulai meletup-letup serta kedua tangannya mengepal erat tanda ia cukup marah dengan kelakuan kedua orang tersebut. Terlebih saat Arya menyaksikan keduanya masuk ke dalam rumah kecil itu, hati Arya seperti dipukul dan jantungnya tersentak.

Hanya untuk meyakinkan dengan apa yang menjadi persangkaannya. Arya meloncat mendekati rumah yang dimasuki Sidanti dan Arumsari. Berkeliling sejenak dengan ilmu meringankan tubuhnya yang pada akhirnya Arya mendapatkan posisi di mana ia bisa mendengar dengan jelas desahan-desahan panjang yang membuat orang yang mendengarnya akan ikut bergairah. Lamat-lamat terdengar erangan-erangan dengan suara lirih. Suara erangan wanita itu membuat Arya mundur dua langkah. Celakanya, kaki Arya masuk lubang menginjak ranting dan daun-daun kering.

“Kraaakkk ...!!!!”

“Siapa di sana !!!!” Tiba-tiba suara Sidanti terdengar dari dalam rumah.

Arya yang merasa ‘tanggung’ tidak lantas kabur. Laki-laki itu malah sengaja berdehem agak kuat seakan memberitahukan kepada kedua orang di dalam rumah tersebut ada orang yang sedang memperhatikan mereka. Tentu saja perbuatan Arya mengundang kemarahan Sidanti yang segera keluar dan menyergap. Tak lama, Sidanti sudah berhasil ‘menagkap’ sang pengintip. Namun, mukanya langsung pucat saat melihat Arya yang menatap tajam ke arahnya.

“Aih ... Kakang Arya ...” Arumsari bersuara tanpa rasa bersalah berdiri di samping Sidanti yang masih mematung.

“Jangan pernah lagi panggil aku kakang ... Sakit telingaku mendengarnya ...” Sahut Arya geram.

“Ha ha ha ... Baguslah kalau begitu ... Berarti syah sudah aku memilikimu, dinda ...” Sidanti senang dan tertawa terbahak-bahak.

“Ya ... Aku pun senang terlepas dari setan betina binal itu ...” Ucap Arya sengit.

“Hei ... Jaga mulut kotormu itu !!!!” Bentak Arumsari seraya telunjuknya mengarah pada wajah Arya.

“Mulutku tak sekotor tubuhmu ... Nikmatilah bekasku ...!!!” Arya berucap sambil memandang sekilas Sidanti lalu pergi meninggalkan ke dua orang yang mulai terbakar amarahnya.

“Kurang ajar!!! Beraninya kau menghinaku!!!” Pekik Arumsari murka.

Dari sudut matanya, Arya melihat kelebatan Arumsari sambil mengarahkan cakar harimaunya ke arah pemuda yang memiliki kewaskitaan tinggi itu. Dengan sangat ringan Arya berhasil menghindari serbuan Arumsari dengan loncatan yang panjang ke kiri di mana dalam waktu yang bersamaan tangan Arya berhasil ‘mengepret’ wajah mulus Arumsari.

“Bajingan!!! Mampus kau!!!” Arumsari berteriak sambil melanjutkan serangan dengan menggunakan jurus cakar harimau andalannya.

Dengan cepat tubuh Arya meliuk-liuk menghindari serangan. Sedangkan kakinya bergerak lincah untuk menopang gerakan tubuhnya. Perubahan jurus yang dimainkan Arya membuat terkejut Arumsari. Dengan penasaran cakar tangan kirinya ditusukkan ke bagian lambung. Sedangkan dari arah kanan cakar tangan kanannya dikibaskan pula hendak mencabik leher. Arya agak kerepotan untuk mengatasi serangan yang datangnya secara bersamaan itu. Tiba-tiba Arya melenting ke udara. Beberapa kali tubuhnya berputaran, lalu meluncur ke bawah dengan kaki mengayun deras ke bagian kepala. Arumsari tidak pernah menduga kalau pemuda itu mampu melakukan serangan dari atas. Dia berusaha menundukkan kepala untuk menghindar, namun gerakannya kalah cepat.

“Buukkkk ....!!!!”

“Aaaaakkkhhh ....!!!” Arumsari menjerit menyayat ketika kepalanya terhantam kaki Arya. Wanita itu terhuyung beberapa langkah ke belakang sebelum akhirnya ambruk ke tanah sambil memegangi kepalanya.

“Bangsaaatttt.....!!!!” Sidanti berteriak sangat kencang saat mendapati kekasih barunya jatuh pingsan.

Dengan ganas laki-laki murid pertama Ki Tambak Wedi itu menerjang. Tinjunya meluncur deras mengarah bagian kepala Arya. Tetapi Arya dengan gesit segera menghindar, dan langsung melancarkan serangan balasan. Dua orang muda itu kini saling serang dengan ganas dan seru. Dari kepulan debu itu terlihat dua orang yang berkelebat saling sambar bagai dua ekor burung elang berebut bangkai seekor kelinci.

“Modar...!” Tiba-tiba saja Sidanti menghentakkan tangan kanannya ke depan. Dan hampir bersamaan waktunya, Arya juga mengibaskan tangannya ke depan. Tak pelak lagi, dua pasang tangan beradu keras. Maka, terjadilah suatu ledakan dahsyat bagai letusan gunung.

“Glaaarrr!!!!”

“Aaaahhhkkkk ...!!!!” Sidanti terpekik tertahan.

Tubuh Sidanti terpental ke belakang sejauh tiga batang tombak. Tumpukan kayu bakar yang cukup tinggi, hancur berkeping-keping terlanda tubuhnya. Sedangkan Arya tampak berdiri tegak di tempatnya sambil bertolak pinggang. Sidanti berusaha bangkit berdiri. Tetapi belum juga bisa bangkit, Arya sudah melompat sambil berteriak keras menggelegar.

“Hiyaaat..!”

“Deesss...!” Satu pukulan keras mendarat telak di dada Sidanti, sehingga kembali terjungkal keras ke tanah, beberapa kali dia bergulingan. Sedangkan Arya langsung memburu cepat. Kaki kanannya mendarat tepat di dada Sidanti.

“Deesss...!” Jejakan kaki setengah hati Arya membuat Sidanti tidak dapat bangun karena tekanan kaki Arya di dadanya sangat kuat dan membuat nafas Sidanti sesak. Tiba-tiba saja berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu ada seorang tua terjun ke dalam medan perkelahian itu sambil membentak nyaring.

“Hentikan ...!!!!” Bentak Ki Tambak Wedi.

Arya mundur beberapa langkah dari tubuh Sidanti. Ki Tambak Wedi mengambil tubuh muridnya untuk duduk bersila. Terlihat di sudut bibir Sidanti mengeluarkan darah. Rupanya Sidanti terluka karena tendangan Arya. Bergegas Sidanti mengerahkan tenaga sakti untuk mengobati luka dalamnya yang lumayan parah. Matanya terpejam dan berkali-kali ia menyedot napas untuk memberi kesegaran pada bagian dada serta perutnya yang terluka. Hantaman kaki Arya tadi benar-benar sangat keras dan hampir saja merusakkan isi perutnya. Untunglah dengan sisa-sisa tenaganya dia masih mampu bertahan.

Lalu Ki Tambak Wedi mengambil tubuh Arumsari yang pingsan dan tergeletak di tanah lalu membawanya ke dalam rumah kecil itu kembali. Tak ada lagi yang harus ditunggu, Arya memutuskan pergi dari padepokan ini. Namun langkahnya tertahan oleh panggilan dari Ki Tambak Wedi.

“Tunggu dulu anak muda!” Ucap Ki Tambak Wedi.

“Ya ... Ada apa tuan ...” Sahut Arya sambil membalikkan badan.

“Ada apa sebenarnya?” Tanya Ki Tambak Wedi setelah berhadapan dengan Arya.

“Maaf, tuan ... Murid tuan mengambil kekasihku ...” Jawab Arya ngasal dan memang tak ada lagi yang bisa diucapkan.

“Begitukah ...” Ucap Ki Tambak Wedi pelan sambil melirik Sidanti yang masih mengobati lukanya.

“Aku pergi, tuan ... Aku serahkan semuanya pada tuan ...” Ucap Arya seraya membalikan badannya.

“Tunggu anak muda ... Siapa gurumu?” Pertanyaan Ki Tambak Wedi menghentikan langkah Arya. Laki-laki itu lantas berdiri sejenak.

“Warang Waja ...!” Jawab Arya dan setelah itu melesat pergi bagai kilat berlalu dari hadapan Ki Tambak Wedi.

“Warang Waja .... Pantas saja ...” Gumam Ki Tambak Wedi takjub.

Mata tuanya tidak bisa menyembunyikan kekaguman pada laki-laki yang telah mengalahkan murid pertamanya itu. Siapa yang tidak tahu nama besar ‘Warang Waja’. Ular naga sakti yang memiliki ratusan ilmu gaib tanpa tanding. Tiba-tiba saja Ki Tambak Wedi teringat ‘Kala Bendu’ sebagai pendekar yang tidak dapat disentuh oleh para pendekar berilmu tinggi seperti dirinya. Akhirnya, Ki Tambak Wedi menghela nafas panjang sambil mengurut-urut dadanya sendiri.

###


Di Tempat Lain ....

Mata laki-laki itu lurus melihat keramaian orang melalui jendela rumah joglo megahnya. Laki-laki berambut panjang yang dibiarkan terurai dan di dada kirinya terdapat gambar naga yang terbuat dari tinta yang ditusuk-tusuk dengan duri ikan itu sedang berpikir keras yang membuat urat di kepala menghiasi keningnya. Hal yang dipikirkan oleh laki-laki itu adalah kesembuhan secara mendadak orang-orang desa yang dipimpin Kuwu Garjito dari wabah yang disebarnya.

“Perbuatan siapa?” Keluhnya dalam hati.

Tiba-tiba ia teringat ucapan gurunya yang mengatakan suatu saat nanti akan ada orang yang akan menghentikannya. Guru laki-laki ini adalah ular naga raksasa yang sangat melegenda sebagai makhluk yang mempunyai kesaktian sangat tinggi. Ya, Kala Bendu masyarakat menyebut laki-laki ini yang sekarang berkuasa di wilayah yang bernama Semanu.

“Ndoro ...” Lamunan Kala Bendu buyar saat mendengar suara yang menyapanya.

“Ya ... Bagaimana? Apa yang kamu dapat?” Pertanyaan Kala Bendu beruntun dengan intonasi penasaran.

“Seorang pemuda bernama Arya Salaka yang menyembuhkan mereka. Pemuda itu mempunyai buli-buli sakti, Ndoro ... Air yang keluar dari buli-buli itu yang menyembuhkan penyakit ...” Jelas seorang abdi Kala Bendu yang bernama Sumarto.

“Hhhhhmm ... Arya Salaka ...” Ucap lirih Kala Bendu sambil memegangi dagunya yang tidak berjenggot.

“Galuh Wangi juga sembuh, ndoro ...” Kata Sumarto menegaskan.

“Baiklah ... Segera kirim beberapa orang untuk mencari Arya Salaka ... Aku harus segera menghabisinya ...!” Perintah Kala Bendu pada Sumarto.

“Baik, ndoro ...!” Setelah mengucapkan itu, Sumarto beringsut meninggalkan tuannya.

Kembali teringat di benak Kala Bendu tentang mimpi yang akhir-akhir ini muncul dalam tidurnya. Mimpi yang selalu sama, sebuah mimpi pertempuran antara dirinya dengan seorang laki-laki yang memiliki kesaktian sangat tinggi. Saat tengah membayangkan mimpi itu, tiba-tiba bulu kuduk Kala Bendu meremang. Di dalam hatinya ada perasaan takut.

“Aahh ... Sialan !!!” Maki Kala Bendu sambil mencoba menghilangkan bayangan tentang mimpi tersebut.

Beberapa menit kemudian tampak berkelebat bayangan orang mendatangi rumah joglo mewah milik Kala Bendu. Mereka itu terdiri dari tiga orang laki-laki yang berusia sekitar tiga puluh sampai empat puluh tahunan. Kala Bendu tersenyum senang dengan kedatangan ketiga orang tersebut karena memang merekalah yang dinantinya sejak tadi.

“Kabarku datang lebih cepat ternyata ...” Sapa Kala Bendu kepada ketiga tamunya yang tak lain adalah pendekar aliran hitam yang dikenal dengan julukan ‘Tapak Sakti dari Timur’.

“Ada apa Kakang memanggil kami?” Kata salah seorang ketiga pendekar itu yang bernama Agnibrata.

“Tenanglah ... Duduk dulu ...!” Sahut Kala Bendu sambil mempersilahkan para tamunya duduk di kursi ukiran kayu jati.

“Kakang ini selalu grasak-grusuk ...!” Protes orang kedua yang bernama Adiwangsa.

“Ha ha ha ... Kebiasaan si kakang ... Maklumlah ...” Timpal seorang lagi yang bernama Aradhana.

Kala Bendu menepuk tangannya berkali-kali dan tak lama keluar dua orang wanita menghampiri mereka. Kala Bendu memerintahkan pada kedua wanita itu untuk menyediakan hidangan untuk para tamunya. Kala Bendu dan para pendekar terlibat dalam obrolan santai sambil menunggu sajian dari tuan rumah. Makanan dan minuman pun tergelar di atas meja dalam waktu yang tak begitu lama. Sambil menikmati sajian, Kala Bendu memulai pembicaraan serius.

“Aku akan memberimu kerjaan ... Kalian cari seseorang yang bernama Arya Salaka. Ciri-cirinya dia membawa sebuah buli-buli ...” Ucap Kala Bendu sambil menatapi ketiga pendekar aliran hitam satu persatu.

“Hanya itu saja ciri-cirinya?” Tanya Agnibrata dengan nada kurang senang.

“Ya ... Hanya itu ...” Respon Kala Bendu santai.

“Sangat sulit kakang ... Tidakkah ada ciri-ciri lain?” Sambung Aradhana sambil mengunyah makanannya. Belum sempat Kala Bendu merespon pertanyaan Aradhana, tiba-tiba seseorang datang dengan nafas yang sedikit terengah-engah.

“Ada informasi apa?” Tanya Kala Bendu yang matanya tertuju pada seseorang yang baru datang tersebut.

“Maaf, ndoro ... Orang itu bernama Arya Salaka ...” Ucapan anak buahnya langsung disambar Kala Bendu.

“Aku sudah tau!!!” Bentak Kala Bendu setengah geram.

“Ini, ndoro ... Arya Salaka lari bersama istri Sima Lodra setelah membunuhnya ...” Lanjut orang tersebut gemetar.

“Edan tenan ...! Sima Lodra bisa dia bunuh ...???” Ucap Adiwangsa terperanjat.

“Hhhhmm ... Berarti kita bisa mulai bergerak dari sana ...” Lirih Agnibrata sambil manggut-manggut.

“Aku rasa cukup ... Pergilah!” Perintah Kala Bendu pada anak buahnya yang langsung saja beringsut meninggalkan ruangan tersebut.

“Ha ha ha ... Sima Lodra modar sama dia ... Pasti ilmunya sangat tinggi ...!” Seru Aradhana.

“Ini bayaran untuk mengejar si Arya Salaka ... Setengahnya lagi kalau kalian bisa membawa orang itu hidup atau mati ...” Kata Kala Bendu sambil melempar buntelan berisikan uang emas ke atas meja.

“Ha ha ha ... Lumayan ...” Sahut Adiwangsa sambil menyambar buntelan tersebut.

Hari menjelang sore, lembayung senja mulai terlihat di ufuk barat. Para pendekar berjulukan ‘Tapak Sakti dari Timur’ itu pun berpamitan kepada Kala Bendu. Sang tuan rumah mengantar mereka sampai pendopo dan membiarkan ketiganya berlesatan pergi. Kala Bendu masuk ke dalam rumahnya dan kembali menepukkan tangannya berkali-kali. Hanya beberapa helaan nafas, kedua wanita yang menyajikan hidangan datang ke hadapan Kala Bendu.

“Bawakan aku tuak ... Dan antar ke kamarku ...!” Perintah Kala Bendu pada kedua wanita itu.

Kedua wanita itu mengangguk sambil tersenyum-senyum lalu berjalan ke arah datangnya semula. Sementara Kala Bendu memasuki kamarnya yang sangat mewah kemudian merebahkan badannya di atas dipan kayu jati yang beralaskan kasur kapuk dan kain lebar berwarna putih. Kala Bendu melipat kedua tangannya di depan dada, tak lama matanya memicing ketika kedua wanita suruhannya masuk ke dalam kamar dengan membawa empat buah kendi berukuran sedang.

“Silahkan, ndoro ...!” Salah satu wanita yang bernama Kemi menyerahkan kendi pada Kala Bendu yang sedang memperbaiki posisinya hingga terduduk. Tangan Kala Bendu meraih kendi tersebut dan langsung menenggak isinya sampai tuntas.

“Simpan kendi-kendi itu ... Dan cepat naik ke sini ...!” Perintah laki-laki tampan pada kedua pesuruhnya.

Tanpa berlama-lama, kedua wanita manis tersebut menyimpan kendi-kendi berisikan tuak di sebuah meja dekat ranjang. Sebelum naik ke atas ranjang, keduanya melolosi kemben mereka hingga tubuh telanjang mereka terekspos begitu saja tanpa ada kain apapun yang menutupinya. Kedua wanita itu lalu naik ke atas ranjang dengan gerakan kemayu.

Tanpa rasa sungkan, wanita bernama Tari langsung mencium Kala Bendu dengan garangnya dan Kala Bendu pun tidak mau tinggal diam, langsung membalas ciumannya dengan garang pula. Lidah mereka pun beraduan, Kala Bendu mulai menghisap lidahnya dan juga sebaliknya. Sedangkan Kemi mulai mempermainkan kejantanan Kala Bendu dengan tangan dan mulutnya, mengocok dimulutnya yang membuat sensasi yang tidak bisa laki-laki itu ungkapkan hingga tanpa sadar ia pun mendesah.

Setelah puas berciuman, Kala Bendu yang sudah telanjang kembali berbaring di atas tempat tidur dan kali ini giliran Tari yang menunggangi selangkangannya, sementara Kemi duduk di atas dada Kala Bendu dan menyodorkan bokongnya yang indah ke wajah Kala Bendu. Tari segera mempaskan posisi kejantanan Kala Bendu agar siap menembus liang kenikmatannya dan dijepitnya ujung batang kejantanan tuannya kuat-kuat itu dengan bibir vaginanya yang telah basah dan lapar.

Kemi yang bokongnya dipegang oleh Kala Bendu memegang dan meremas-remas payudara Tari yang sangat ranum dengan puting susu yang telah mengeras. Dipermainkannya kedua buah dada temannya itu sambil sesekali menyeruput puting susu Tari, yang membuat wanita tersebut langsung mengerang penuh kenikmatan.

Paha Tari yang gemetaran penuh nikmat akhirnya tidak kuat lagi menahan tubuhnya dan akhirnya jatuhlah dia terduduk di atas selangkangan Kala Bendu, dengan kejantanan sang lelaki yang langsung melesak masuk menghujam tubuhnya dari bawah. Tari bergerak naik turun mencari kenikmatannya sendiri. Dan hanya beberapa menit saja, gelombang kenikmatan yang begitu dahsyat langsung menyebar dari daerah pribadinya menjalar ke seluruh tubuhnya dan Tari pun langsung mengalami orgasme kecil dan muncrat seketika membanjiri selangkangan Kala Bendu.

Kemi yang melihat betapa nikmatnya orgasme kecil yang dialami oleh temannya itu dengan nakal terus memainkan buah dada dan puting susu Tari. Diremas dan dihisapnya payudara Tari kuat-kuat sembari menikmati sensasi nikmat yang juga dialami oleh dirinya sendiri tatkala madu kembang yang masih mengalir di daerah kewanitaannya diseruput oleh Kala Bendu yang memijat-mijat kedua belah pantatnya yang putih dan mulus tersebut.

“Aaakkkhhh....! kelamin pria ndoro.... enak sekali...!” Seru Tari yang telah diguyur habis-habisan di bagian atas dan bawah oleh teman dan Kala Bendu.

“Aahh ... aahh ... aahh ... aahh ...!” Sambil meracau merasakan kenikmatan di bagian payudara dan vaginanya, Tari menggerak-gerakkan pinggulnya dan dengan gerakan memompa naik dan turun, dipacunya kejantanan Kala Bendu keluar masuk liang nikmatnya, menyodok-nyodok bagian terdalam lubang kenikmatannya dan mengirimkan sensasi nikmat yang langsung menjalar naik ke atas sampai menembus ubun-ubunnya.

Akhirnya kedua wanita itu pun saling menggenggamkan kedua tangan mereka dan saling bersandar pada diri yang lainnya sambil menikmati kenikmatan yang diberikan oleh Kala Bendu kepada mereka. Tari yang menikmati kejantanan sang tuan di vaginanya dan Kemi yang menikmati permainan lidah sang tuan di daerah pribadinya saling bertumpu dan tubuh kedua wanita tersebut seolah membentuk sebuah piramida dengan Kala Bendu sebagai fondasinya. Wajah Tari dan Kemi yang semakin mendekat dan nafas mereka yang bercampur penuh dengan nafsu membuat tubuh mereka menjadi semakin lengket satu sama lain dan kedua wanita itu pun mulai saling berciuman dengan nuah dada mereka yang saling beradu dan bergesekan memberikan kenikmatan satu sama lainnya.

Permainan lidah Kala Bendu di dalam miss V Kemi menjadi semakin intens dan kadang-kadang digunakannya juga jari-jarinya untuk merangsang wanita tersebut. Diusapnya miss V Kemi dan dibelainya kedua belah pantatnya sambil menyeruput nektar yang keluar dari kembang kewanitaannya sambil sesekali dihisapnya klitoris Kemi sambil mengaduk-aduk miss V wanita itu dengan jari-jarinya hingga nektar yang keluar dari kembang kewanitaan Kemi mengucur semakin deras karena wanita itu kembali mengalami orgasme karena permainan lidah dan jari Kala Bendu di daerah pribadinya.

Sementara itu, Kala Bendu pun tidak lupa menghentak-hentakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah mengikuti irama gerakan Tari dan memompa kejantanannya semakin dalam melesak masuk menghantam daerah terdalam lubang kenikmatan Tari sehingga memberikan rangsangan ekstra kepada Tari. Kala Bendu terus memompa penisnya mengikuti irama gerakan pinggul Tari, sementara jari-jemarinya dengan lihai mempermainkan miss V Kemi yang masih diseruput olehnya menikmati setiap tetes nektar manis yang mengalir keluar dari kembang kewanitaannya.

Tubuh kedua wanita tersebut bergetar dan mulai menggelinjang, bergolak pertanda gelombang orgasme sudah semakin dekat siap menghantam mereka. Kejantanan Kala Bendu yang sudah besar dan keras karena terus-menerus dirangsang oleh gesekan-gesekan yang bercampur dengan pijatan kuat otot-otot dinding miss V Tari yang liat dan kencang serta dengan mulus keluar-masuk memompa lubang kenikmatan wanita itu karena telah dilumasi oleh cairan kenikmatan yang keluar dari daerah pribadinya juga terasa semakin panas dan berkedut-kedut pertanda sudah siap meledak. Gerakan tubuh ketiga insan yang sedang memadu kasih di atas ranjang tersebut menjadi semakin panas dan intens seiring dengan semakin dekatnya mereka bertiga dengan puncak kenikmatan masing-masing.

“Aaaaacchhhh ... Ke-keluaaarrrrr .... Aaaaccchhh ....!” Jerit nikmat Kemi.

“Ak-akkuuu ... juga ... Ndoooroo ... Aaaaaccchhhh ...!” Jerit Tari agak berbarengan dengan jeritan Kemi.

“Aaaakkkhhh....! Aku juga ... muncratttt....!” Pekik Kala Bendu.

Tidak lama berselang mereka bertiga pun saling menyesuaikan irama percumbuan mereka hingga akhirnya Tari, Kemi dan Kala Bendu dapat meraih klimaks secara bersamaan. Cukup lama Tari dan Kemi saling berpelukan dalam dekapan tubuh Kala Bendu di atas ranjang. Nafas mereka yang memburu saling bercampur dan tubuh mereka yang masih panas dibakar oleh api nafsu yang berkobar-kobar dalam diri mereka masih belum berhenti bergetar dan berkedut, yang saling menghantarkan rangsangan sensual satu sama lain.

Perlahan Kemi merayapi tubuh Kala Bendu dan mengecup mesra sang tuan. Dengan tatapan lapar, dipintanya sang tuan untuk memenuhi hasrat nafsunya yang masih belum terpuaskan.

“Ndoro ... Giliran aku ya ... Aku juga mau ...”

“Kamu sudah muncrat berkali-kali? Kamu masih belum puas juga?” Tanya Kala Bendu dengan senyum menggoda. Kemi membalas senyumannya dan diciumnya kembali tuannya sambil berbisik lembut di telinganya.

“Kalau belum ditusuk pakai punya ndoro ... Aku mana bisa puas ...” Lalu dengan senyum nakal dikecupnya lagi Kala Bendu yang membalas dengan mengulum bibir dan lidahnya.

Tari yang memperhatikan keduanya dengan penuh pengertian menyingkir ke samping dan memberikan ruang kepada kedua insan itu untuk bercinta. Kala Bendu bangkit dan menciumi Tari sebelum mulai kembali bercumbu dengan Kemi yang masih terbaring di atas ranjang. Dipegangnya pinggang Kemi dan dengan kedua tangannya, Kala Bendu mulai bergerak menyusuri dan membelai setiap bagian paha Kemi yang putih dan mulus sambil membuka selangkangan wanita itu lebar-lebar ke samping. Kemi menerima setiap belaian dari Kala Bendu yang membuat tubuhnya merasa rileks dan membiarkan dirinya kembali tenggelam dalam kenikmatan bercinta.

Kala Bendu menatap tubuh indah sang wanita dan perlahan diangkatnya pinggul Kemi dan dipaskannya posisi batang kejantanannya yang sudah siap beraksi kembali tepat di hadapan lubang kewanitaanya yang tersingkap oleh selangkangannya yang terbuka lebar mengangkang di hadapan Kala Bendu. Dengan sekali hentakan, Kala Bendu menancapkan kejantanannya langsung hingga ujungnya melesak ke bagian terdalam miss V Kemi. Tanpa basa-basi lagi, langsung saja dipompanya liang kenikmatan Kemi dengan penuh nafsu sehingga batang kejantanannya berpacu dengan cepat keluar-masuk lubang kewanitaan wanita itu.

“Aahh ... aahh ... aahh ... eennaak ndooroo ...” Rintihan Kemi keluar begitu saja dari mulutnya.

Kala Bendu yang menahan kedua belah paha Kemi yang terbuka mengangkang dengan kedua tangannya sambil memacu penisnya yang besar, panas dan keras yang dengan ganas merogol miss V Kemi yang ketat, kencang, hangat dan liat. Otot-otot miss V Kemi dengan penuh ketekunan menjepit dan berkedut-kedut memijat-mijat kejantanan Kala Bendu yang merangsang seluruh organ seksualnya hingga ke bagian yang terdalam hingga pintu rahimnya terbuka lebar dengan penuh suka cita.

Kejantanan Kala Bendu dengan penuh gairah terus bergerak keluar-masuk lubang kenikmatan Kemi yang telah menjadi begitu hangat dan basah melumasi penis sang lelaki yang dipompa dengan semakin cepat dan intens menyodok-nyodok liang cintanya hingga ke bagian yang paling dalam. Tubuh Kemi yang masih begitu sensitif karena belum selesai menikmati kenikmatan orgasme yang baru saja diraih oleh dirinya kembali menggelinjang dan bergetar hebat sambil melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk leher Kala Bendu dan memantapkan posisinya sembari meraung dengan penuh nikmat.

“Aaaaaaccchhhh .... Ndooorrrooo ... Munccrrraaatttt ....!” Akhirnya Kemi sampai pada puncaknya dengan tubuh berkelenjotan dalam himpitan Kala Bendu.

Kejantanan Kala Bendu dengan ganas merogol miss V Kemi dengan begitu intens. Tidak dihiraukannya racauan wanita itu dan tak lama kemudian mereka berdua pun akhirnya kembali mengalami klimaks secara bersamaan, dengan saling berpelukan erat seolah tubuh mereka yang saling berkait telah menempel dengan kuat tak ingin lepas satu sama lainnya.

Dan malam itu mereka melewati setengah malam dengan penuh keringat, cumbuan, rabaan, hentakan nafas dan desahan nikmat berkali-kali sampai akhirnya merasa kelelahan. Lama-kelamaan mereka bertiga sama-sama terlelap. Mereka tidur saling berpelukan dan memberikan kehangatan satu sama lain hingga terbangun keesokan harinya.

BERSAMBUNG
WORDS MONARCH

User avatar

Topic author
cinthunks
MODERATOR
MODERATOR
Posts: 84
Joined: 11 May 2018, 04:02
Reputation:

Post by cinthunks » 17 Sep 2019, 02:34

CHAPTER 4
PADEPOKAN TAMBAK WEDI​




AUTHOR POV

Kabut malam menutupi pandangan mata, bentuknya seperti serabut tipis yang mengiris udara. Arya dan Arumsari berdiri tegak, dipeluk oleh serat kabut, tenggelam dalam semilir angin, dikelilingi bau bunga sedap malam. Pelan-pelan mereka mendekati pintu gerbang padepokan yang terbuat dari kayu jati tebal. Arya mengetuk pintu gerbang padepokan yang masih tertutup rapat. Perlahan pintu gerbang padepokan terbuka dan tampak seorang pemuda berpakaian serba hitam berdiri menantang.

“Permisi ... Kami kemalaman ... Bolehkah kami menginap di sini malam ini ...” Kata Arya sopan dan ramah. Pemuda itu menatap penuh curiga terhadap dua sosok di hadapannya.

“Tunggu sebentar ...!” Pemuda itu bersuara lalu menutup pintu gerbang. Sekitar dua puluh helaan nafas, pintu gerbang terbuka kembali, kini yang nampak adalah seorang pria tampan berpakaian serba putih dengan ikat kepala yang bagian kanan dan kiri belakang dibiarkan menjuntai hingga bahu.

“Siapa kalian ini?” Tanya si pria ramah namun penuh selidik.

“Kami pengembara yang kemalaman ... Bila berkenan, kami ingin bermalam di sini sampai hari terang ...” Jawab Arya sambil membungkukan badannya memberi penghormatan.

“Aku, Sidanti ... Murid tertua dari padepokan ini ...” Si pria tidak lantas mempersilahkan Arya dan Arumsari masuk namun memperkenalkan dirinya.

“Oh ... Saya, Arya Salaka dan ini Arumsari ...” Arya memperkenalkan diri. Pria yang bernama Sidanti menelisik kedua orang di hadapannya dengan seksama. Lama matanya terpaku pada Arumsari.

“Silahkan ...!” Akhirnya Sidanti mempersilahkan Arya dan Arumsari masuk ke dalam padepokan.

Arya dan Arumsari berjalan di belakang murid pertama padepokan. Langkah kaki mereka menuju bangunan utama yang berada yang berada di tengah-tengah bangunan lain. Sidanti mempersilahkan Arya dan Arumsari masuk ke dalam bangunan tersebut. Arya memperhatikan suasana dalam bangunan yang memiliki banyak ruang itu dengan rasa kagum.

“Apakah kalian suami istri?” Tiba-tiba Sidanti bertanya.

“Bu-bukan ... Kami ber-bersaudara ...” Lirih Arya gugup. Sidanti agak mengerungkan keningnya lalu berusaha tersenyum.

“Kalian boleh memilih salah satu kamar di sana ...!” Ucap Sidanti sambil menunjuk ke arah kanan.

“Terimakasih, kisanak ... Maaf jika kami mengganggu ...” Kembali Arya membungkukan badannya.

“Silahkan beristirahat ... Maaf kami tidak bisa menjamu kalian karena hari sudah malam...” Tiba-tiba suara Sidanti menjadi sangat lembut.

“Terimakasih ... Terimakasih ...” Sahut Arya dengan sikap sopannya.

Sidanti akhirnya meninggalkan tamunya begitu saja, sementara Arya dan Arumsari bergerak ke arah kamar yang ditunjuk sang tuan rumah. Terjadi perdebatan kecil antara Arya dan Arumsari sebelum memasuki kamar. Namun setelah beberapa saat Arya mengalah dengan keinginan Arumsari yang ingin tidur sekamar dengannya.

“Seharusnya nyimas tidur di kamar sebelah ...” Ucap Arya yang masih kesal.

“Aku gak berani sendirian di tempat asing seperti ini, kangmas ...” Jawab Arumsari sangat genit.

“Ya sudah ... Segera kita tidur ... Jangan berbuat yang macam-macam ... Janji ya ...” Setelah mengucapkan itu, Arya membaringkan tubuhnya di atas dipan yang diikuti oleh Arumsari.

“Ya ... Kangmas ...” Desah Arumsari.

Janji tinggal janji, ucap tinggal ucapan, perbuatan berkata lain. Kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu tidak mampu menahan hasrat yang bergejolak. Di dalam kamar yang sangat minim cahaya berlangsung pergulatan panas mereka. Sang dominan menatap lapar pada pasangan bercintanya yang tubuhnya terhentak ke depan dan ke belakang saat sang dominan menghentakkan kejantanannya dan semakin memperdalam sodokannya pada sosok yang mengerang dan mendesah hebat di bawah tubuh seksinya.

Tanpa disadari, sepasang bola mata berwarna hitam legam sejak tadi mengintip aktivitas bercinta kedua insan tersebut dengan tatapan nanar. Hati pria pengintip sangat gelisah, degup-degup di dadanya sangat tidak tenang, sesekali menelan liurnya kasar, dan ia berulang-ulang menghela nafasnya berat perlahan. Perlahan namun pasti, hati pria pengintip mulai terpesona oleh kecantikan dan kemolekan Arumsari. Wanita cantik itu membuatnya merasakan perasaan yang tak dapat didefinisikan.

Pria pengintip itu surut langkah ke belakang setelah Arya dan Arumsari terlelap. Berbagai perasaan berkecamuk memenuhi dadanya. Pria itu memijit pelipis pelan sambil berjinjit memasuki kamarnya. Bayangan wajahnya yang cantik, tubuhnya yang indah, dan gayanya yang anggun mulai menjadi bahan hayal pria ini sepanjang malam sampai dirinya tertidur.

###

Suara kokok ayam jago terdengar lagi untuk kesekian kalinya, seakan berusaha untuk membangunkan Arya dari tidurnya. Kemudian saat matanya terbuka perlahan, Arya tidak menemukan Arumsari di dalam kamar. Lalu dengan segera Arya berguling untuk bangkit dari dipan. Ia pun membawa kakinya melangkah ke luar kamar. Suasana padepokan sangat ramai, beberapa pesilat tampak berlatih ringan di lapangan depan gedung utama.

Selagi ia kebingungan, tiba-tiba dari jauh Arya melihat seorang tua berpakaian putih. Bajunya juga sederhana dan lebar seperti jubah pendeta. Setelah mengamati orang tua itu, Arya segera mendekat dan langsung memberi hormat kepada orang tua itu dan berkata ...

“Salam hotmat hamba, tuan ... Maaf telah merepotkan ...” Ucap Arya setelah berhadapan dengan orang yang diyakini Arya adalah guru padepokan. Dan memang benar sangkaan Arya, orang yang dihadapinya adalah guru padepokan yang bernama Ki Tambak Wedi.

“Oh, ya ... Anak muda ... Maaf kami tidak bisa menyambut tamu sebagaimana layaknya. Harap anak muda memakluminya ...” Kata Ki Tambak Wedi penuh khidmat.

“Tidak apa-apa, tuan ... Saya yang seharusnya minta maaf karena datang tidak diundang ...” Jawab Arya merendah.

“Ha ha ha ... Silahkan menikmati suasana di padepokan ini ... Anak muda bisa mencari makanan di dapur ...” Ujar Ki Tambak Wedi.

“Ya, tuan ...” Arya selanjutnya meninggalkan Ki Tambak Wedi yang sedang melatih murid-muridnya.

Pemuda pemilik buli-buli sakti itu kemudian kembali ke dalam rumah besar dan langsung ke arah belakang rumah. Arya menemukan makanan di sebuah meja berukuran besar namun ia sama sekali tidak tertarik dengan makanan yang tersaji. Tangannya meraih dua buah pisang dan melahapnya sekaligus. Dan memang, sejak beralih zaman, pemuda ini lebih suka memakan buah-buahan untuk mengisi perutnya.

Arya melanjutkan langkahnya ke arah lebih belakang, terlihat beberapa murid padepokan sedang membelah kayu bakar. Arya melanjutkan langkahnya lebih belakang lagi. Di hadapannya terpampang pemandangan yang sangat indah. Penuh pohon berkembang dan rumput menghijau, juga di situ mengalir sebuah sungai kecil yang amat jernih airnya, penuh batu-batu hitam yang beraneka macam bentuknya.

Kaki Arya mulai menyentuh air sungai yang dingin menyejukan. Kemudian, dengan ilmu meringankan tubuhnya, Arya bergerak ke hulu sungai dan tak lama menemukan tempat yang cukup tersembunyi. Setelah melepaskan pakaiannya, Arya merendamkan badannya menikmati dingin air sungai. Dengan begitu, tubuhnya menjadi lebih rileks dan tenang. Ternyata air sungai itu jernih dan lebih dingin daripada air telaga tempat gurunya berada, maka Arya merasa betah sekali mandi di situ. Ia menyelam ke dalam air mencari kerang dan mengejar ikan-ikan kecil yang bermacam-macam warna dan bentuknya.

Saat sedang ‘bersenang-senang’ menyelam di dasar sungai, Mata Arya tertumbuk pada sebuah peti kecil berkilauan yang sebagian badannya tertimbun tanah. Dengan gerakan ringan, Arya berhasil meraih peti kecil itu dengan hanya satu gengaman tangan lalu membawanya ke permukaan. Arya segera beranjak dari sungai dan memakai pakaiannya kembali. Pemuda itu duduk di atas batu besar di pinggir sungai sambil memperhatikan peti kecil yang ditemukannya.

“Aku buka aja ... Penasaran, apa isinya?” Gumam Arya sambil mengambil batu lalu memukulkannya sangat keras pada peti tersebut.

Setelah beberapa pukulan keras, peti kecil itu akhirnya terbuka. Matanya membulat, keningnya berselirat saat ia melihat sebuah buku kecil di dalam peti. Hanya beberapa detik berpikir, Arya segera mengambil gulungan lontar yang hanya terdiri atas tujuh lembar yang terlihat sudah sangat lusuh. Halaman demi halaman mulai ia pelajari. Rasa ketertarikan yang teramat sangat membuat pikirannya terfokus pada pelajaran yang ada dalam gulungan lontar kecil tersebut.

“Jurus pedang ini, lumayan juga ...” Gumam Arya sambil kembali pada halaman pertama buku. Sekali lagi ia pelajari gambar-gambar yang ada di halaman pertama.

“Syarat mempelajari ilmu pedang ini adalah tenaga dalam yang sangat besar ... Aku coba dulu ...” Gumam Arya lagi.

Arya mulai berlatih meningkatkan tenaga dalam dengan cara olah pernafasan dan meditasi sesuai petunjuk dalam buku. Laki-laki itu merasa ada aliran hawa murni sangat dahsyat pelan-pelan menjalar ke seluruh tubuh, lalu tubuhnya terasa sangat nyaman sekali. Arya adalah orang yang belajar ilmu kanuragan dari makhluk gaib, tentu saja tahu ini adalah akibat dari olah pernafasan dan meditasinya.

Arya yang duduk bersila di atas bata besar menambah pemusatan nalar budi dan mengenali arus peredaran darah serta detak urat nadinya. Hal itu dilakukannya berulang-ulang, sehingga pada gilirannya terasa hawa murni dahsyat yang bergerak dari lubang hidungnya, mengalir ke bawah, ke paru-paru, ke jantung, ke bawah perut, bergerak ke atas ke kepala sampai ujung rambut. Kemudian turun lagi ke bawah sampai ke ujung jari kakinya. Semua pergerakan hawa murni dahsyat itu terus diamati dan dikendalikanya.

Namun Arya merasa seolah-olah pergerakan itu masih tersumbat dan memerlukan penyaluran. Kadang-kadang pergerakan hawa murni dahsyat itu berputar tak terkendali dan lepas dari pengawasannya. Namun dengan bersusah payah akhirnya hawa murni dahsyat itu perlahan-lahan bisa dikuasai dan dikendalikannya. Setelah berkutat hampir seperempat hari, akhirnya Arya menyelesaikan latihan olah pernapasannya itu. Arya pun membuka sila kakinya dan mengurai tangannya yang bersedakep.

Sesuai petunjuk gulungan lontar kecil yang ia temukan, Arya mulai mencoba tenaga dalamnya. Arya mengangkat tangannya ke atas dan tiba-tiba sebagian air sungai terangkat dengan jumlah yang sangat banyak. Seakan tidak puas dengan jumlah air sungai yang berhasil ia angkat ke udara, Arya lebih mengangkat tangannya lagi ke atas dan hasilnya sebagia air sungai yang lain terangkat lagi ke udara. Dua gumpalan air sungai melayang-layang di udara digerakan oleh kekuatan tenaga dalam Arya yang kini meningkat beratus-ratus lipat kali.

Arya tersenyum puas dengan hasil latihannya. Tanpa pemuda itu sadari kalau gurunya, ‘Warang Waja’, secara diam-diam telah memberinya sebuah ilmu kedigjayaan sangat langka yang menjadikan ia dapat dengan cepat menghafal, mengingat dan menerapkan ilmu yang didapatnya. Sehingga ilmu tenaga dalam yang harusnya bisa dicapai dalam waktu berminggu bahkan berbulan bisa ia kuasai hanya dengan seperempat hari.

Arya bangkit dari duduknya setelah menghempaskan gumpalan air kembali ke dalam sungai. Ia mencari dahan pohon yang agak kecil yang digunakannya sebagai pengganti pedang. Tanpa ragu dan keyakinan sangat tinggi, Arya mulai bergerak mengikuti gerakan-gerakan yang terdapat dalam buku kecil tersebut.

Jurus yang aneh sekali dan biar pun digerakkan perlahan, dahan pohon itu mengeluarkan bunyi berdesing-desing, naik turun suaranya ketika gerakan-gerakannya berubah sehingga seperti suling ditiup melagu! Kemudian Arya bergerak ke belakang tiga langkah dan mainkan jurusnya dengan cepat. Bukan main! Siapa pun yang melihat akan menjadi silau karena dahan pohon itu lenyap menjadi segulung sinar putih seperti kilat yang mengeluarkan bunyi berdesing-desing aneh.

Hampir setengah hari, Arya merapal jurus-jurus aneh tersebut bahkan laki-laki itu mengkombinasikan dengan ilmu meringankan tubuhnya. Alhasil, jurus yang baru saja dipelajarinya itu menjadi sebuah jurus yang sangat menakjubkan. Batu-batu sebesar ‘gajah’ pecah berhamburan hanya dengan sentuhan ujung dahan pohon yang ia pegang. Sampai pada penghujung hari, Arya kini berhasil mengontrol kekuatan jurus itu. Arya berhasil menggunakan jurus pedang tersebut untuk sekedar melumpuhkan sampai dengan tingkat mematikan.

“Siapa pun pemilik lontar ini ... Aku haturkan sembah sujud hamba pada Guruku ...” Arya bergumam sambil membungkukan badannya ke segala arah.

Setelah membakar lontar kecil berisikan jurus pedang maut yang telah dikuasainya, Arya segera meloncat dengan kekuatan ilmu meringankan tubuh meninggalkan tempat itu. Tak lama, Arya sampai di bagian belakang padepokan Tambak Wedi. Baru beberapa langkah masuk pintu gerbang belakang, mata Arya menangkap sebuah pemandangan yang sulit dipercaya. Dengan sigap Arya menyelinap di balik dinding sebuah bangunan kecil di sebelah kirinya.

Arya melihat sangat jelas Sidanti meraih kedua tangan Arumsari, mereka saling tatap dan bercakap-cakap, tetapi Arya tidak cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka. Arya berspekulasi bahwa mereka sedang bermesraan. Arya masih terdiam pada posisinya, hingga hatinya seperti ditusuk jarum kecil yang tak tahu di mana tempatnya hingga tak bisa dicabut lagi, ketika melihat Sidanti memeluk Arumsari, dan wanita itu justru membalas pelukan Sidanti dan tersenyum bahagia. Arya masih terpaku di tempat, matanya pedas melihat pemandangan di depannya.

Khianat tetap khianat, tikam belakang tetap tikam belakang. Amarah Arya mulai meletup-letup serta kedua tangannya mengepal erat tanda ia cukup marah dengan kelakuan kedua orang tersebut. Terlebih saat Arya menyaksikan keduanya masuk ke dalam rumah kecil itu, hati Arya seperti dipukul dan jantungnya tersentak.

Hanya untuk meyakinkan dengan apa yang menjadi persangkaannya. Arya meloncat mendekati rumah yang dimasuki Sidanti dan Arumsari. Berkeliling sejenak dengan ilmu meringankan tubuhnya yang pada akhirnya Arya mendapatkan posisi di mana ia bisa mendengar dengan jelas desahan-desahan panjang yang membuat orang yang mendengarnya akan ikut bergairah. Lamat-lamat terdengar erangan-erangan dengan suara lirih. Suara erangan wanita itu membuat Arya mundur dua langkah. Celakanya, kaki Arya masuk lubang menginjak ranting dan daun-daun kering.

“Kraaakkk ...!!!!”

“Siapa di sana !!!!” Tiba-tiba suara Sidanti terdengar dari dalam rumah.

Arya yang merasa ‘tanggung’ tidak lantas kabur. Laki-laki itu malah sengaja berdehem agak kuat seakan memberitahukan kepada kedua orang di dalam rumah tersebut ada orang yang sedang memperhatikan mereka. Tentu saja perbuatan Arya mengundang kemarahan Sidanti yang segera keluar dan menyergap. Tak lama, Sidanti sudah berhasil ‘menagkap’ sang pengintip. Namun, mukanya langsung pucat saat melihat Arya yang menatap tajam ke arahnya.

“Aih ... Kakang Arya ...” Arumsari bersuara tanpa rasa bersalah berdiri di samping Sidanti yang masih mematung.

“Jangan pernah lagi panggil aku kakang ... Sakit telingaku mendengarnya ...” Sahut Arya geram.

“Ha ha ha ... Baguslah kalau begitu ... Berarti syah sudah aku memilikimu, dinda ...” Sidanti senang dan tertawa terbahak-bahak.

“Ya ... Aku pun senang terlepas dari setan betina binal itu ...” Ucap Arya sengit.

“Hei ... Jaga mulut kotormu itu !!!!” Bentak Arumsari seraya telunjuknya mengarah pada wajah Arya.

“Mulutku tak sekotor tubuhmu ... Nikmatilah bekasku ...!!!” Arya berucap sambil memandang sekilas Sidanti lalu pergi meninggalkan ke dua orang yang mulai terbakar amarahnya.

“Kurang ajar!!! Beraninya kau menghinaku!!!” Pekik Arumsari murka.

Dari sudut matanya, Arya melihat kelebatan Arumsari sambil mengarahkan cakar harimaunya ke arah pemuda yang memiliki kewaskitaan tinggi itu. Dengan sangat ringan Arya berhasil menghindari serbuan Arumsari dengan loncatan yang panjang ke kiri di mana dalam waktu yang bersamaan tangan Arya berhasil ‘mengepret’ wajah mulus Arumsari.

“Bajingan!!! Mampus kau!!!” Arumsari berteriak sambil melanjutkan serangan dengan menggunakan jurus cakar harimau andalannya.

Dengan cepat tubuh Arya meliuk-liuk menghindari serangan. Sedangkan kakinya bergerak lincah untuk menopang gerakan tubuhnya. Perubahan jurus yang dimainkan Arya membuat terkejut Arumsari. Dengan penasaran cakar tangan kirinya ditusukkan ke bagian lambung. Sedangkan dari arah kanan cakar tangan kanannya dikibaskan pula hendak mencabik leher. Arya agak kerepotan untuk mengatasi serangan yang datangnya secara bersamaan itu. Tiba-tiba Arya melenting ke udara. Beberapa kali tubuhnya berputaran, lalu meluncur ke bawah dengan kaki mengayun deras ke bagian kepala. Arumsari tidak pernah menduga kalau pemuda itu mampu melakukan serangan dari atas. Dia berusaha menundukkan kepala untuk menghindar, namun gerakannya kalah cepat.

“Buukkkk ....!!!!”

“Aaaaakkkhhh ....!!!” Arumsari menjerit menyayat ketika kepalanya terhantam kaki Arya. Wanita itu terhuyung beberapa langkah ke belakang sebelum akhirnya ambruk ke tanah sambil memegangi kepalanya.

“Bangsaaatttt.....!!!!” Sidanti berteriak sangat kencang saat mendapati kekasih barunya jatuh pingsan.

Dengan ganas laki-laki murid pertama Ki Tambak Wedi itu menerjang. Tinjunya meluncur deras mengarah bagian kepala Arya. Tetapi Arya dengan gesit segera menghindar, dan langsung melancarkan serangan balasan. Dua orang muda itu kini saling serang dengan ganas dan seru. Dari kepulan debu itu terlihat dua orang yang berkelebat saling sambar bagai dua ekor burung elang berebut bangkai seekor kelinci.

“Modar...!” Tiba-tiba saja Sidanti menghentakkan tangan kanannya ke depan. Dan hampir bersamaan waktunya, Arya juga mengibaskan tangannya ke depan. Tak pelak lagi, dua pasang tangan beradu keras. Maka, terjadilah suatu ledakan dahsyat bagai letusan gunung.

“Glaaarrr!!!!”

“Aaaahhhkkkk ...!!!!” Sidanti terpekik tertahan.

Tubuh Sidanti terpental ke belakang sejauh tiga batang tombak. Tumpukan kayu bakar yang cukup tinggi, hancur berkeping-keping terlanda tubuhnya. Sedangkan Arya tampak berdiri tegak di tempatnya sambil bertolak pinggang. Sidanti berusaha bangkit berdiri. Tetapi belum juga bisa bangkit, Arya sudah melompat sambil berteriak keras menggelegar.

“Hiyaaat..!”

“Deesss...!” Satu pukulan keras mendarat telak di dada Sidanti, sehingga kembali terjungkal keras ke tanah, beberapa kali dia bergulingan. Sedangkan Arya langsung memburu cepat. Kaki kanannya mendarat tepat di dada Sidanti.

“Deesss...!” Jejakan kaki setengah hati Arya membuat Sidanti tidak dapat bangun karena tekanan kaki Arya di dadanya sangat kuat dan membuat nafas Sidanti sesak. Tiba-tiba saja berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu ada seorang tua terjun ke dalam medan perkelahian itu sambil membentak nyaring.

“Hentikan ...!!!!” Bentak Ki Tambak Wedi.

Arya mundur beberapa langkah dari tubuh Sidanti. Ki Tambak Wedi mengambil tubuh muridnya untuk duduk bersila. Terlihat di sudut bibir Sidanti mengeluarkan darah. Rupanya Sidanti terluka karena tendangan Arya. Bergegas Sidanti mengerahkan tenaga sakti untuk mengobati luka dalamnya yang lumayan parah. Matanya terpejam dan berkali-kali ia menyedot napas untuk memberi kesegaran pada bagian dada serta perutnya yang terluka. Hantaman kaki Arya tadi benar-benar sangat keras dan hampir saja merusakkan isi perutnya. Untunglah dengan sisa-sisa tenaganya dia masih mampu bertahan.

Lalu Ki Tambak Wedi mengambil tubuh Arumsari yang pingsan dan tergeletak di tanah lalu membawanya ke dalam rumah kecil itu kembali. Tak ada lagi yang harus ditunggu, Arya memutuskan pergi dari padepokan ini. Namun langkahnya tertahan oleh panggilan dari Ki Tambak Wedi.

“Tunggu dulu anak muda!” Ucap Ki Tambak Wedi.

“Ya ... Ada apa tuan ...” Sahut Arya sambil membalikkan badan.

“Ada apa sebenarnya?” Tanya Ki Tambak Wedi setelah berhadapan dengan Arya.

“Maaf, tuan ... Murid tuan mengambil kekasihku ...” Jawab Arya ngasal dan memang tak ada lagi yang bisa diucapkan.

“Begitukah ...” Ucap Ki Tambak Wedi pelan sambil melirik Sidanti yang masih mengobati lukanya.

“Aku pergi, tuan ... Aku serahkan semuanya pada tuan ...” Ucap Arya seraya membalikan badannya.

“Tunggu anak muda ... Siapa gurumu?” Pertanyaan Ki Tambak Wedi menghentikan langkah Arya. Laki-laki itu lantas berdiri sejenak.

“Warang Waja ...!” Jawab Arya dan setelah itu melesat pergi bagai kilat berlalu dari hadapan Ki Tambak Wedi.

“Warang Waja .... Pantas saja ...” Gumam Ki Tambak Wedi takjub.

Mata tuanya tidak bisa menyembunyikan kekaguman pada laki-laki yang telah mengalahkan murid pertamanya itu. Siapa yang tidak tahu nama besar ‘Warang Waja’. Ular naga sakti yang memiliki ratusan ilmu gaib tanpa tanding. Tiba-tiba saja Ki Tambak Wedi teringat ‘Kala Bendu’ sebagai pendekar yang tidak dapat disentuh oleh para pendekar berilmu tinggi seperti dirinya. Akhirnya, Ki Tambak Wedi menghela nafas panjang sambil mengurut-urut dadanya sendiri.

###


Di Tempat Lain ....

Mata laki-laki itu lurus melihat keramaian orang melalui jendela rumah joglo megahnya. Laki-laki berambut panjang yang dibiarkan terurai dan di dada kirinya terdapat gambar naga yang terbuat dari tinta yang ditusuk-tusuk dengan duri ikan itu sedang berpikir keras yang membuat urat di kepala menghiasi keningnya. Hal yang dipikirkan oleh laki-laki itu adalah kesembuhan secara mendadak orang-orang desa yang dipimpin Kuwu Garjito dari wabah yang disebarnya.

“Perbuatan siapa?” Keluhnya dalam hati.

Tiba-tiba ia teringat ucapan gurunya yang mengatakan suatu saat nanti akan ada orang yang akan menghentikannya. Guru laki-laki ini adalah ular naga raksasa yang sangat melegenda sebagai makhluk yang mempunyai kesaktian sangat tinggi. Ya, Kala Bendu masyarakat menyebut laki-laki ini yang sekarang berkuasa di wilayah yang bernama Semanu.

“Ndoro ...” Lamunan Kala Bendu buyar saat mendengar suara yang menyapanya.

“Ya ... Bagaimana? Apa yang kamu dapat?” Pertanyaan Kala Bendu beruntun dengan intonasi penasaran.

“Seorang pemuda bernama Arya Salaka yang menyembuhkan mereka. Pemuda itu mempunyai buli-buli sakti, Ndoro ... Air yang keluar dari buli-buli itu yang menyembuhkan penyakit ...” Jelas seorang abdi Kala Bendu yang bernama Sumarto.

“Hhhhhmm ... Arya Salaka ...” Ucap lirih Kala Bendu sambil memegangi dagunya yang tidak berjenggot.

“Galuh Wangi juga sembuh, ndoro ...” Kata Sumarto menegaskan.

“Baiklah ... Segera kirim beberapa orang untuk mencari Arya Salaka ... Aku harus segera menghabisinya ...!” Perintah Kala Bendu pada Sumarto.

“Baik, ndoro ...!” Setelah mengucapkan itu, Sumarto beringsut meninggalkan tuannya.

Kembali teringat di benak Kala Bendu tentang mimpi yang akhir-akhir ini muncul dalam tidurnya. Mimpi yang selalu sama, sebuah mimpi pertempuran antara dirinya dengan seorang laki-laki yang memiliki kesaktian sangat tinggi. Saat tengah membayangkan mimpi itu, tiba-tiba bulu kuduk Kala Bendu meremang. Di dalam hatinya ada perasaan takut.

“Aahh ... Sialan !!!” Maki Kala Bendu sambil mencoba menghilangkan bayangan tentang mimpi tersebut.

Beberapa menit kemudian tampak berkelebat bayangan orang mendatangi rumah joglo mewah milik Kala Bendu. Mereka itu terdiri dari tiga orang laki-laki yang berusia sekitar tiga puluh sampai empat puluh tahunan. Kala Bendu tersenyum senang dengan kedatangan ketiga orang tersebut karena memang merekalah yang dinantinya sejak tadi.

“Kabarku datang lebih cepat ternyata ...” Sapa Kala Bendu kepada ketiga tamunya yang tak lain adalah pendekar aliran hitam yang dikenal dengan julukan ‘Tapak Sakti dari Timur’.

“Ada apa Kakang memanggil kami?” Kata salah seorang ketiga pendekar itu yang bernama Agnibrata.

“Tenanglah ... Duduk dulu ...!” Sahut Kala Bendu sambil mempersilahkan para tamunya duduk di kursi ukiran kayu jati.

“Kakang ini selalu grasak-grusuk ...!” Protes orang kedua yang bernama Adiwangsa.

“Ha ha ha ... Kebiasaan si kakang ... Maklumlah ...” Timpal seorang lagi yang bernama Aradhana.

Kala Bendu menepuk tangannya berkali-kali dan tak lama keluar dua orang wanita menghampiri mereka. Kala Bendu memerintahkan pada kedua wanita itu untuk menyediakan hidangan untuk para tamunya. Kala Bendu dan para pendekar terlibat dalam obrolan santai sambil menunggu sajian dari tuan rumah. Makanan dan minuman pun tergelar di atas meja dalam waktu yang tak begitu lama. Sambil menikmati sajian, Kala Bendu memulai pembicaraan serius.

“Aku akan memberimu kerjaan ... Kalian cari seseorang yang bernama Arya Salaka. Ciri-cirinya dia membawa sebuah buli-buli ...” Ucap Kala Bendu sambil menatapi ketiga pendekar aliran hitam satu persatu.

“Hanya itu saja ciri-cirinya?” Tanya Agnibrata dengan nada kurang senang.

“Ya ... Hanya itu ...” Respon Kala Bendu santai.

“Sangat sulit kakang ... Tidakkah ada ciri-ciri lain?” Sambung Aradhana sambil mengunyah makanannya. Belum sempat Kala Bendu merespon pertanyaan Aradhana, tiba-tiba seseorang datang dengan nafas yang sedikit terengah-engah.

“Ada informasi apa?” Tanya Kala Bendu yang matanya tertuju pada seseorang yang baru datang tersebut.

“Maaf, ndoro ... Orang itu bernama Arya Salaka ...” Ucapan anak buahnya langsung disambar Kala Bendu.

“Aku sudah tau!!!” Bentak Kala Bendu setengah geram.

“Ini, ndoro ... Arya Salaka lari bersama istri Sima Lodra setelah membunuhnya ...” Lanjut orang tersebut gemetar.

“Edan tenan ...! Sima Lodra bisa dia bunuh ...???” Ucap Adiwangsa terperanjat.

“Hhhhmm ... Berarti kita bisa mulai bergerak dari sana ...” Lirih Agnibrata sambil manggut-manggut.

“Aku rasa cukup ... Pergilah!” Perintah Kala Bendu pada anak buahnya yang langsung saja beringsut meninggalkan ruangan tersebut.

“Ha ha ha ... Sima Lodra modar sama dia ... Pasti ilmunya sangat tinggi ...!” Seru Aradhana.

“Ini bayaran untuk mengejar si Arya Salaka ... Setengahnya lagi kalau kalian bisa membawa orang itu hidup atau mati ...” Kata Kala Bendu sambil melempar buntelan berisikan uang emas ke atas meja.

“Ha ha ha ... Lumayan ...” Sahut Adiwangsa sambil menyambar buntelan tersebut.

Hari menjelang sore, lembayung senja mulai terlihat di ufuk barat. Para pendekar berjulukan ‘Tapak Sakti dari Timur’ itu pun berpamitan kepada Kala Bendu. Sang tuan rumah mengantar mereka sampai pendopo dan membiarkan ketiganya berlesatan pergi. Kala Bendu masuk ke dalam rumahnya dan kembali menepukkan tangannya berkali-kali. Hanya beberapa helaan nafas, kedua wanita yang menyajikan hidangan datang ke hadapan Kala Bendu.

“Bawakan aku tuak ... Dan antar ke kamarku ...!” Perintah Kala Bendu pada kedua wanita itu.

Kedua wanita itu mengangguk sambil tersenyum-senyum lalu berjalan ke arah datangnya semula. Sementara Kala Bendu memasuki kamarnya yang sangat mewah kemudian merebahkan badannya di atas dipan kayu jati yang beralaskan kasur kapuk dan kain lebar berwarna putih. Kala Bendu melipat kedua tangannya di depan dada, tak lama matanya memicing ketika kedua wanita suruhannya masuk ke dalam kamar dengan membawa empat buah kendi berukuran sedang.

“Silahkan, ndoro ...!” Salah satu wanita yang bernama Kemi menyerahkan kendi pada Kala Bendu yang sedang memperbaiki posisinya hingga terduduk. Tangan Kala Bendu meraih kendi tersebut dan langsung menenggak isinya sampai tuntas.

“Simpan kendi-kendi itu ... Dan cepat naik ke sini ...!” Perintah laki-laki tampan pada kedua pesuruhnya.

Tanpa berlama-lama, kedua wanita manis tersebut menyimpan kendi-kendi berisikan tuak di sebuah meja dekat ranjang. Sebelum naik ke atas ranjang, keduanya melolosi kemben mereka hingga tubuh telanjang mereka terekspos begitu saja tanpa ada kain apapun yang menutupinya. Kedua wanita itu lalu naik ke atas ranjang dengan gerakan kemayu.

Tanpa rasa sungkan, wanita bernama Tari langsung mencium Kala Bendu dengan garangnya dan Kala Bendu pun tidak mau tinggal diam, langsung membalas ciumannya dengan garang pula. Lidah mereka pun beraduan, Kala Bendu mulai menghisap lidahnya dan juga sebaliknya. Sedangkan Kemi mulai mempermainkan kejantanan Kala Bendu dengan tangan dan mulutnya, mengocok dimulutnya yang membuat sensasi yang tidak bisa laki-laki itu ungkapkan hingga tanpa sadar ia pun mendesah.

Setelah puas berciuman, Kala Bendu yang sudah telanjang kembali berbaring di atas tempat tidur dan kali ini giliran Tari yang menunggangi selangkangannya, sementara Kemi duduk di atas dada Kala Bendu dan menyodorkan bokongnya yang indah ke wajah Kala Bendu. Tari segera mempaskan posisi kejantanan Kala Bendu agar siap menembus liang kenikmatannya dan dijepitnya ujung batang kejantanan tuannya kuat-kuat itu dengan bibir vaginanya yang telah basah dan lapar.

Kemi yang bokongnya dipegang oleh Kala Bendu memegang dan meremas-remas payudara Tari yang sangat ranum dengan puting susu yang telah mengeras. Dipermainkannya kedua buah dada temannya itu sambil sesekali menyeruput puting susu Tari, yang membuat wanita tersebut langsung mengerang penuh kenikmatan.

Paha Tari yang gemetaran penuh nikmat akhirnya tidak kuat lagi menahan tubuhnya dan akhirnya jatuhlah dia terduduk di atas selangkangan Kala Bendu, dengan kejantanan sang lelaki yang langsung melesak masuk menghujam tubuhnya dari bawah. Tari bergerak naik turun mencari kenikmatannya sendiri. Dan hanya beberapa menit saja, gelombang kenikmatan yang begitu dahsyat langsung menyebar dari daerah pribadinya menjalar ke seluruh tubuhnya dan Tari pun langsung mengalami orgasme kecil dan muncrat seketika membanjiri selangkangan Kala Bendu.

Kemi yang melihat betapa nikmatnya orgasme kecil yang dialami oleh temannya itu dengan nakal terus memainkan buah dada dan puting susu Tari. Diremas dan dihisapnya payudara Tari kuat-kuat sembari menikmati sensasi nikmat yang juga dialami oleh dirinya sendiri tatkala madu kembang yang masih mengalir di daerah kewanitaannya diseruput oleh Kala Bendu yang memijat-mijat kedua belah pantatnya yang putih dan mulus tersebut.

“Aaakkkhhh....! kelamin pria ndoro.... enak sekali...!” Seru Tari yang telah diguyur habis-habisan di bagian atas dan bawah oleh teman dan Kala Bendu.

“Aahh ... aahh ... aahh ... aahh ...!” Sambil meracau merasakan kenikmatan di bagian payudara dan vaginanya, Tari menggerak-gerakkan pinggulnya dan dengan gerakan memompa naik dan turun, dipacunya kejantanan Kala Bendu keluar masuk liang nikmatnya, menyodok-nyodok bagian terdalam lubang kenikmatannya dan mengirimkan sensasi nikmat yang langsung menjalar naik ke atas sampai menembus ubun-ubunnya.

Akhirnya kedua wanita itu pun saling menggenggamkan kedua tangan mereka dan saling bersandar pada diri yang lainnya sambil menikmati kenikmatan yang diberikan oleh Kala Bendu kepada mereka. Tari yang menikmati kejantanan sang tuan di vaginanya dan Kemi yang menikmati permainan lidah sang tuan di daerah pribadinya saling bertumpu dan tubuh kedua wanita tersebut seolah membentuk sebuah piramida dengan Kala Bendu sebagai fondasinya. Wajah Tari dan Kemi yang semakin mendekat dan nafas mereka yang bercampur penuh dengan nafsu membuat tubuh mereka menjadi semakin lengket satu sama lain dan kedua wanita itu pun mulai saling berciuman dengan nuah dada mereka yang saling beradu dan bergesekan memberikan kenikmatan satu sama lainnya.

Permainan lidah Kala Bendu di dalam miss V Kemi menjadi semakin intens dan kadang-kadang digunakannya juga jari-jarinya untuk merangsang wanita tersebut. Diusapnya miss V Kemi dan dibelainya kedua belah pantatnya sambil menyeruput nektar yang keluar dari kembang kewanitaannya sambil sesekali dihisapnya klitoris Kemi sambil mengaduk-aduk miss V wanita itu dengan jari-jarinya hingga nektar yang keluar dari kembang kewanitaan Kemi mengucur semakin deras karena wanita itu kembali mengalami orgasme karena permainan lidah dan jari Kala Bendu di daerah pribadinya.

Sementara itu, Kala Bendu pun tidak lupa menghentak-hentakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah mengikuti irama gerakan Tari dan memompa kejantanannya semakin dalam melesak masuk menghantam daerah terdalam lubang kenikmatan Tari sehingga memberikan rangsangan ekstra kepada Tari. Kala Bendu terus memompa penisnya mengikuti irama gerakan pinggul Tari, sementara jari-jemarinya dengan lihai mempermainkan miss V Kemi yang masih diseruput olehnya menikmati setiap tetes nektar manis yang mengalir keluar dari kembang kewanitaannya.

Tubuh kedua wanita tersebut bergetar dan mulai menggelinjang, bergolak pertanda gelombang orgasme sudah semakin dekat siap menghantam mereka. Kejantanan Kala Bendu yang sudah besar dan keras karena terus-menerus dirangsang oleh gesekan-gesekan yang bercampur dengan pijatan kuat otot-otot dinding miss V Tari yang liat dan kencang serta dengan mulus keluar-masuk memompa lubang kenikmatan wanita itu karena telah dilumasi oleh cairan kenikmatan yang keluar dari daerah pribadinya juga terasa semakin panas dan berkedut-kedut pertanda sudah siap meledak. Gerakan tubuh ketiga insan yang sedang memadu kasih di atas ranjang tersebut menjadi semakin panas dan intens seiring dengan semakin dekatnya mereka bertiga dengan puncak kenikmatan masing-masing.

“Aaaaacchhhh ... Ke-keluaaarrrrr .... Aaaaccchhh ....!” Jerit nikmat Kemi.

“Ak-akkuuu ... juga ... Ndoooroo ... Aaaaaccchhhh ...!” Jerit Tari agak berbarengan dengan jeritan Kemi.

“Aaaakkkhhh....! Aku juga ... muncratttt....!” Pekik Kala Bendu.

Tidak lama berselang mereka bertiga pun saling menyesuaikan irama percumbuan mereka hingga akhirnya Tari, Kemi dan Kala Bendu dapat meraih klimaks secara bersamaan. Cukup lama Tari dan Kemi saling berpelukan dalam dekapan tubuh Kala Bendu di atas ranjang. Nafas mereka yang memburu saling bercampur dan tubuh mereka yang masih panas dibakar oleh api nafsu yang berkobar-kobar dalam diri mereka masih belum berhenti bergetar dan berkedut, yang saling menghantarkan rangsangan sensual satu sama lain.

Perlahan Kemi merayapi tubuh Kala Bendu dan mengecup mesra sang tuan. Dengan tatapan lapar, dipintanya sang tuan untuk memenuhi hasrat nafsunya yang masih belum terpuaskan.

“Ndoro ... Giliran aku ya ... Aku juga mau ...”

“Kamu sudah muncrat berkali-kali? Kamu masih belum puas juga?” Tanya Kala Bendu dengan senyum menggoda. Kemi membalas senyumannya dan diciumnya kembali tuannya sambil berbisik lembut di telinganya.

“Kalau belum ditusuk pakai punya ndoro ... Aku mana bisa puas ...” Lalu dengan senyum nakal dikecupnya lagi Kala Bendu yang membalas dengan mengulum bibir dan lidahnya.

Tari yang memperhatikan keduanya dengan penuh pengertian menyingkir ke samping dan memberikan ruang kepada kedua insan itu untuk bercinta. Kala Bendu bangkit dan menciumi Tari sebelum mulai kembali bercumbu dengan Kemi yang masih terbaring di atas ranjang. Dipegangnya pinggang Kemi dan dengan kedua tangannya, Kala Bendu mulai bergerak menyusuri dan membelai setiap bagian paha Kemi yang putih dan mulus sambil membuka selangkangan wanita itu lebar-lebar ke samping. Kemi menerima setiap belaian dari Kala Bendu yang membuat tubuhnya merasa rileks dan membiarkan dirinya kembali tenggelam dalam kenikmatan bercinta.

Kala Bendu menatap tubuh indah sang wanita dan perlahan diangkatnya pinggul Kemi dan dipaskannya posisi batang kejantanannya yang sudah siap beraksi kembali tepat di hadapan lubang kewanitaanya yang tersingkap oleh selangkangannya yang terbuka lebar mengangkang di hadapan Kala Bendu. Dengan sekali hentakan, Kala Bendu menancapkan kejantanannya langsung hingga ujungnya melesak ke bagian terdalam miss V Kemi. Tanpa basa-basi lagi, langsung saja dipompanya liang kenikmatan Kemi dengan penuh nafsu sehingga batang kejantanannya berpacu dengan cepat keluar-masuk lubang kewanitaan wanita itu.

“Aahh ... aahh ... aahh ... eennaak ndooroo ...” Rintihan Kemi keluar begitu saja dari mulutnya.

Kala Bendu yang menahan kedua belah paha Kemi yang terbuka mengangkang dengan kedua tangannya sambil memacu penisnya yang besar, panas dan keras yang dengan ganas merogol miss V Kemi yang ketat, kencang, hangat dan liat. Otot-otot miss V Kemi dengan penuh ketekunan menjepit dan berkedut-kedut memijat-mijat kejantanan Kala Bendu yang merangsang seluruh organ seksualnya hingga ke bagian yang terdalam hingga pintu rahimnya terbuka lebar dengan penuh suka cita.

Kejantanan Kala Bendu dengan penuh gairah terus bergerak keluar-masuk lubang kenikmatan Kemi yang telah menjadi begitu hangat dan basah melumasi penis sang lelaki yang dipompa dengan semakin cepat dan intens menyodok-nyodok liang cintanya hingga ke bagian yang paling dalam. Tubuh Kemi yang masih begitu sensitif karena belum selesai menikmati kenikmatan orgasme yang baru saja diraih oleh dirinya kembali menggelinjang dan bergetar hebat sambil melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk leher Kala Bendu dan memantapkan posisinya sembari meraung dengan penuh nikmat.

“Aaaaaaccchhhh .... Ndooorrrooo ... Munccrrraaatttt ....!” Akhirnya Kemi sampai pada puncaknya dengan tubuh berkelenjotan dalam himpitan Kala Bendu.

Kejantanan Kala Bendu dengan ganas merogol miss V Kemi dengan begitu intens. Tidak dihiraukannya racauan wanita itu dan tak lama kemudian mereka berdua pun akhirnya kembali mengalami klimaks secara bersamaan, dengan saling berpelukan erat seolah tubuh mereka yang saling berkait telah menempel dengan kuat tak ingin lepas satu sama lainnya.

Dan malam itu mereka melewati setengah malam dengan penuh keringat, cumbuan, rabaan, hentakan nafas dan desahan nikmat berkali-kali sampai akhirnya merasa kelelahan. Lama-kelamaan mereka bertiga sama-sama terlelap. Mereka tidur saling berpelukan dan memberikan kehangatan satu sama lain hingga terbangun keesokan harinya.

BERSAMBUNG
WORDS MONARCH


BahlulDoang
TAMU AGUNG
TAMU AGUNG
Posts: 2
Joined: 17 Sep 2019, 02:41
Reputation:

Post by BahlulDoang » 17 Sep 2019, 03:04

Hadiiiir!! Om Ntunks...
ikutan kemari ane..
/lala
Hanya penikmat cerita

User avatar

Topic author
cinthunks
MODERATOR
MODERATOR
Posts: 84
Joined: 11 May 2018, 04:02
Reputation:

Post by cinthunks » 17 Sep 2019, 03:10

BahlulDoang wrote:
17 Sep 2019, 03:04
Hadiiiir!! Om Ntunks...
ikutan kemari ane..
/lala
Laah laaah ternyata dah disini
WORDS MONARCH


gino
WARGA CelapCelup
WARGA CelapCelup
Posts: 31
Joined: 16 Sep 2019, 23:07
Reputation:

Post by gino » 17 Sep 2019, 03:19

Akhirnya bisa liat lagi karya pak lurah , ikutan jadi stalker ya om...

User avatar

Antareja
WARGA CelapCelup
WARGA CelapCelup
Posts: 12
Joined: 17 Sep 2019, 03:45
Reputation:

Post by Antareja » 17 Sep 2019, 04:03

Ini jug wajib di list dahulu sebelum baca
Levi15th yang terlahir kembali.


Jundirendan
CALON WARGA
CALON WARGA
Posts: 6
Joined: 16 Sep 2019, 19:49
Reputation:

Post by Jundirendan » 17 Sep 2019, 06:38

Cerbung ini dirilis disini ya bang. Asyik bisa lanjut baca.
Bang verified ane lah bang, biar bisa selancara disini dengan nyaman


Jundirendan
CALON WARGA
CALON WARGA
Posts: 6
Joined: 16 Sep 2019, 19:49
Reputation:

Post by Jundirendan » 17 Sep 2019, 06:41

Cerbung ini dirilis disini ya bang. Asyik bisa lanjut baca.
Bang verified ane lah bang, biar bisa selancara disini dengan nyaman


Jundirendan
CALON WARGA
CALON WARGA
Posts: 6
Joined: 16 Sep 2019, 19:49
Reputation:

Post by Jundirendan » 17 Sep 2019, 07:06

cinthunks wrote:
28 Aug 2019, 15:14
Ajak yg lain kesini yaak para tukang tanjidor dan kawan kawan

Kita besarkann forum ini sama sama om pent
Bang verified ane dong

User avatar

angelo
MODERATOR
MODERATOR
Posts: 81
Joined: 07 May 2018, 22:14
Reputation:

Post by angelo » 17 Sep 2019, 08:24

ayo suhu di kebut UPdatenya...
JANGAN SEMUA HAL DI LAKUKAN DENGAN PERHITUNGAN UNTUNG DAN RUGI


pp6
Donatur Ultra
Donatur Ultra
Posts: 20
Joined: 16 Sep 2019, 13:04
Reputation:

Post by pp6 » 17 Sep 2019, 14:36

penthoel_11 wrote:
16 Sep 2019, 15:38
Ati2 jadi anak band sampeyan /gg1
Yg dionoh LG kena warning
/pusing

Post Reply

Return to “Cerbung”